“METODE ANALISIS KUALITAS AIR”
Disusun Oleh :
Nama : Rafiq Ramadhan Ruslida
NPM : E1I023055
Kelas : A
Mata Kuliah : Metode
Analisis Kualistas Air Dosen Pengampu : 1. Dr.Yar Johan.,
S.Pi., M.Si
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU
2025
KAJIAN
KUALITAS AIR LAUT DI PERAIRAN PROVINSI SULAWESI SELATAN(Study of Seawater
Quality in South Sulawesi Province)
Yusuf, M., Maslukah, L., dan Wulandari, S. Y.
1. Pendahuluan : Perairan Provinsi
Sulawesi Selatan merupakan wilayah pesisir yang memiliki aktivitas cukup padat,
terutama pada sektor perikanan, pelabuhan, industri, serta pemukiman pesisir.
Wilayah ini juga menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kelautan di
Indonesia timur. Tingginya aktivitas manusia di kawasan pesisir berpotensi
memengaruhi kondisi kualitas air laut, terutama akibat masuknya limbah
domestik, aktivitas kapal, dan limpasan dari daratan. Menurut penelitian
Lestari dkk. (2019), peningkatan aktivitas di wilayah pesisir tanpa pengelolaan
yang baik dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan dan berdampak pada
ekosistem laut. Oleh karena itu, kajian kualitas air laut menjadi penting
sebagai dasar pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di Provinsi
Sulawesi Selatan.
2. Konsep Kualitas Air : Kualitas air laut
ditentukan oleh parameter fisika, kimia, dan biologi yang menggambarkan kondisi
perairan secara menyeluruh. Parameter fisika meliputi suhu, kecerahan, dan
Total Suspended Solid (TSS), sementara parameter kimia meliputi pH, oksigen
terlarut, nitrat, fosfat, serta logam berat. Parameter biologi umumnya ditunjukkan
oleh keberadaan mikroorganisme seperti bakteri coliform. Parameter-parameter
tersebut digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat pencemaran dan
kesehatan ekosistem perairan (Sastrawijaya, 2009). Perubahan nilai parameter
kualitas air sering kali berkaitan erat dengan aktivitas manusia dan dinamika
lingkungan perairan pesisir.
3. Kondisi Kualitas Air : Beberapa hasil
penelitian di perairan pesisir Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kualitas air
laut di beberapa lokasi mengalami tekanan lingkungan, terutama di sekitar
kawasan pemukiman dan pelabuhan. Nilai suhu permukaan laut yang relatif tinggi
dapat memengaruhi kestabilan ekosistem dan metabolisme organisme laut
(Nybakken, 1992). Nilai TSS yang tinggi menyebabkan perairan menjadi keruh
sehingga menghambat penetrasi cahaya matahari dan menurunkan proses
fotosintesis. Selain itu, peningkatan konsentrasi nitrat dan fosfat sering
dikaitkan dengan masuknya limbah domestik dan aktivitas daratan melalui aliran
sungai (Putri dkk., 2020). Kondisi ini menunjukkan adanya potensi penurunan
kualitas perairan yang perlu mendapat perhatian.
4. Sumber, Penyebab, dan Dampak
Penurunan Kualitas Air : Sumber utama penurunan kualitas air laut di Provinsi
Sulawesi Selatan berasal dari limbah rumah tangga, aktivitas pelabuhan,
industri pesisir, serta limpasan dari daerah aliran sungai. Limbah domestik
berkontribusi terhadap meningkatnya kandungan nutrien dan bakteri coliform di
perairan (Yusuf dkk., 2018). Aktivitas kapal dan pelabuhan berpotensi
meningkatkan kandungan logam berat di perairan pesisir. Dampak dari penurunan
kualitas air tersebut antara lain terganggunya habitat biota laut, penurunan
produktivitas perairan, serta berkurangnya kualitas lingkungan pesisir yang
dimanfaatkan oleh masyarakat.
5. Upaya Pengelolaan Kualitas Air : Pengelolaan
kualitas air laut di Provinsi Sulawesi Selatan perlu dilakukan melalui
pemantauan kualitas air secara rutin dan berkelanjutan. Setiap sumber limbah,
baik domestik maupun industri, perlu dikelola dengan baik sebelum dibuang ke
perairan laut. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat pesisir mengenai
pentingnya menjaga kebersihan lingkungan laut juga menjadi langkah penting.
Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan terpadu antara pemerintah, industri,
dan masyarakat mampu menekan laju penurunan kualitas perairan pesisir (Putri
dkk., 2020).
6. Penutup : Secara umum, kualitas air
laut di perairan Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan adanya tekanan akibat
aktivitas manusia di wilayah pesisir. Beberapa parameter kualitas air
mengindikasikan potensi pencemaran yang dapat berdampak pada ekosistem laut dan
kehidupan masyarakat pesisir. Oleh karena itu, upaya pengelolaan yang
berkelanjutan melalui pemantauan rutin, pengendalian limbah, dan peningkatan
kesadaran lingkungan sangat diperlukan agar kualitas perairan tetap terjaga.
Daftar Pustaka
Lestari, R., Widodo, A., dan Pratiwi, N. T. M. 2019.
Kajian kualitas perairan pesisir berdasarkan parameter fisika dan kimia di
Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu dan
Teknologi Kelautan Tropis, 11(2): 245–256.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan
Ekologis. Gramedia.
Putri, D. A., Surbakti, H., dan Aryawati, R. 2020.
Analisis kualitas air laut dan tingkat pencemaran di wilayah pesisir. Jurnal Kelautan Nasional, 15(1): 45–54.
Sastrawijaya, A. T. 2009. Pencemaran Lingkungan.
Rineka Cipta.
Yusuf, M., Maslukah, L., dan Wulandari, S. Y. 2018.
Distribusi nutrien dan kaitannya dengan kualitas perairan pesisir. Jurnal Oseanografi, 7(1): 12–21.
Komentar
Posting Komentar