PLANKTON, NEKTON, DAN BENTHOS
KEHIDUPAN LAUT
(Plankton,Nekton,Benthos)
I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan sungai. Rosenberg dalam Ardi (2002) menyebutkan bahwa beberapa organisme plankton bersifat toleran dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan indeks saprobik, dimana indeks ini digunakan untuk mengetahui tingkat ketergantungan atau hubungan suatu organisme dengan senyawa yang menjadi sumber nutrisinya, sehingga dapat diketahui hubungan kelimpahan plankton dengan tingkat pencemaran suatu perairan (Dahuri, 1995).
Plankton merupakan komponen utama yang menyusun ekosisitem perairan. Plankton dapat diartikan sebagai organisme kecil yang pasif dan melayang mengikuti arus, walaupun sebagian kecil
memiliki kemampuan berenang tetapi tidak terlalu kuat untuk melawan arus, Plankton dibagi menjadi fitoplankton danzooplankton (Nichols dan Williams, 2009).
Berdasarkan fungsinya plankton dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu fitoplankton dan zooplankton (Nontji, 2008).
Fitoplankton merupakan plankton nabati yang mempunyai fungsi sebagai produktifitas primer perairan dan sebagai rantai makan paling bawah. Fitoplankton juga mempunyai kemampuan dalam menyedian oksigen terlarut bagi biota lain dari hasil proses fotosintesis dengan
bantuan sinar matahari.
Zooplakton memiliki fungsi sebagai produktifitas sekunder merupakan konsumen langsung fitoplankton dan penting dalam transfer energi melalui rantai makanan. Zooplankton terdiri dari plankton sejati (Holoplankton) dan plankton sementara (Meroplankton). Mengingat pentingnya peran plankton (fitoplankton dan zooplankton) sebagai komponen rantai makanan dan
sekaligus sebagi indikator terhadap kesuburan suatu ekosisitem perairan, maka penelitian mengenai komposisi dan kelimpahan plankton di perairan Pulau Gusung Kepulauan Selayar juga penting untuk dilakukan.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Bertujuan untuk menyampaikan informasi dan untuk menambah ilmu mengenai plankton, nekton, dan benthos agar bermanfaat untuk khalayak ramai
II.ISI
2.1. Pengertian Plankton
Plankton adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan beragam organisme mikroskopis yang melayang di dalam air, baik di lautan maupun di air tawar. Organisme planktonik dapat berupa alga, bakteri, protozoa, dan hewan kecil seperti krustasea dan larva ikan. Plankton adalah komponen penting dalam ekosistem akuatik karena mereka merupakan sumber makanan bagi berbagai organisme laut yang lebih besar, termasuk ikan dan mamalia laut. Plankton juga memainkan peran penting dalam siklus nutrisi laut dan produksi oksigen di atmosfer melalui proses fotosintesis oleh alga planktonik. Plankton dibagi menjadi dua kelompok utama: plankton fitoplankton (yang terdiri dari organisme tumbuhan) dan plankton zooplankton (yang terdiri dari organisme hewan).
2.2. Jenis-Jenis Plankton
Plankton dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan karakteristik dan sifat biologisnya.
Fitoplankton: Merupakan jenis plankton yang terdiri dari organisme fotosintetik seperti alga mikroskopis dan cyanobacteria. Fitoplankton memproduksi energi melalui proses fotosintesis dan merupakan sumber makanan utama bagi organisme lain di laut. Contoh fitoplankton meliputi diatom, dinoflagellata, coccolithophores, dan cyanobacteria.
Zooplankton: Merupakan jenis plankton yang terdiri dari organisme hewan kecil yang tidak mampu bergerak secara aktif melawan arus laut. Zooplankton dapat berupa hewan herbivora, karnivora, atau omnivora, dan mereka memakan fitoplankton serta organisme planktonik lainnya. Contoh zooplankton meliputi copepoda, kril, larva krustasea, larva ikan, dan jeli laut.
2.3. Benthos
Benthos adalah istilah yang merujuk pada organisme yang hidup di atau dekat dasar perairan, baik di lingkungan laut maupun air tawar. Organisme benthik biasanya terikat atau berinteraksi dengan substrat dasar, seperti lumpur, pasir, batu, atau material organik lainnya. Mereka dapat hidup secara aktif atau pasif di dasar perairan dan beragam dalam ukuran, mulai dari mikroskopis hingga ukuran yang lebih besar.
Organisme benthik mencakup berbagai jenis, termasuk moluska seperti kerang dan tiram, krustasea seperti kepiting dan udang, cacing polychaete, ikan yang hidup di dasar laut, serta mikroorganisme seperti bakteri dan alga. Benthos memiliki peran penting dalam ekosistem akuatik karena mereka menyediakan sumber makanan bagi organisme lain, menguraikan bahan organik, dan berkontribusi pada siklus nutrisi di perairan. Mereka juga dapat menjadi indikator penting untuk kesehatan lingkungan dan kualitas perairan karena sensitivitas mereka terhadap perubahan lingkungan dan polusi.
Benthos merujuk pada organisme yang hidup di atau dekat dasar perairan, seperti di dasar laut atau di dasar sungai, dan bergantung pada substrat untuk mendukung hidupnya. Organisme benthik dapat hidup secara aktif atau pasif di dasar perairan, dan mereka mencakup berbagai jenis hewan dan tumbuhan.
Berikut adalah beberapa contoh organisme benthik:
Organisme epifauna: Hidup di atas substrat dasar perairan, seperti kerang, tiram, atau kerangka karang mati.
Organisme infauna: Hidup di dalam substrat dasar perairan, seperti cacing polychaete atau molluska yang menggali lubang di dasar laut.
Organisme epifit: Tumbuhan atau alga yang melekat pada substrat dasar perairan, seperti alga yang tumbuh di batu atau tumbuhan air yang melekat pada batang tanaman lain.
Organisme periphyton: Bakteri, alga, atau organisme mikroskopis lainnya yang melekat pada permukaan substrat, seperti batu, tanaman air, atau sedimen di dasar perairan.
Benthos mencakup berbagai jenis organisme yang hidup di atau dekat dasar perairan. Berikut adalah beberapa kategori umum organisme benthik:
Epifauna: Organisme yang hidup di atas substrat dasar perairan. Contohnya termasuk kerang, tiram, krustasea seperti kepiting, dan beberapa spesies ikan yang bersarang di dasar laut.
Infauna: Organisme yang hidup di dalam substrat dasar perairan. Contoh infauna meliputi cacing polychaete, moluska seperti kerang, dan beberapa spesies udang yang menggali lubang atau terowongan di dasar laut.
Epifit: Tumbuhan atau alga yang melekat pada substrat dasar perairan. Contoh epifit termasuk alga yang tumbuh di batu atau tanaman air yang melekat pada batang tanaman lainnya.
2.4. Nekton
Nekton adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan organisme yang mampu bergerak secara aktif secara mandiri di dalam perairan. Organisme nekton biasanya memiliki kemampuan untuk berenang melawan arus dan bergerak secara efisien di lingkungan akuatik. Mereka memiliki kontrol atas pergerakan mereka dan tidak tergantung pada arus atau pasif terbawa olehnya seperti plankton.
Organisme nekton seringkali memiliki kemampuan pernapasan yang baik dan berbagai adaptasi fisik untuk membantu dalam pergerakan di perairan, seperti sirip, insang, dan tubuh yang aerodinamis. Beberapa contoh organisme nekton termasuk ikan, paus, lumba-lumba, hiu, penyu laut, dan beberapa spesies cephalopoda seperti gurita dan cumi-cumi.
Nekton adalah bagian penting dari rantai makanan di lingkungan akuatik dan memainkan peran vital dalam ekosistem laut. Mereka sering menjadi predator utama bagi plankton dan organisme kecil lainnya serta menjadi sumber makanan bagi organisme lain yang lebih besar di dalam ekosistem perairan.
Nekton merupakan kelompok organisme yang bergerak secara aktif di dalam perairan, dan mereka dapat terdiri dari berbagai jenis hewan laut yang memiliki kemampuan berenang yang baik. Berikut adalah beberapa jenis nekton yang umum:
Ikan: Ini adalah kelompok nekton yang paling melimpah dan bervariasi. Termasuk ikan air tawar dan ikan laut seperti salmon, tuna, hiu, paus, lumba-lumba, dan berbagai jenis ikan karang.
Cephalopoda: Merupakan kelompok hewan laut yang memiliki ciri khas berupa kaki atau tentakel, termasuk gurita, cumi-cumi, dan sotong. Mereka memiliki kemampuan berenang yang sangat baik dan sering menjadi predator yang efektif.
Reptil: Beberapa jenis reptil laut seperti penyu laut adalah contoh nekton. Penyu laut memiliki kemampuan berenang yang luar biasa dan sering melakukan migrasi jarak jauh antara daerah pemberian makan dan tempat berkembang biakannya.
Aves: Burung laut seperti burung camar, albatros, dan penguin juga termasuk dalam kelompok nekton. Meskipun mereka sering berkembang biak di daratan, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka mencari makanan di perairan.
Mamalia laut: Ini termasuk mamalia seperti paus, lumba-lumba, anjing laut, dan singa laut. Mamalia laut memiliki kemampuan berenang yang sangat baik dan sering berkelompok untuk mencari makanan di perairan laut.
Planktonik nektonik: Ada juga organisme nektonik yang dapat melakukan pergerakan vertikal dalam kolom air tetapi juga memiliki kemampuan berenang yang kuat. Ini termasuk beberapa jenis hewan kecil seperti copepoda dan larva ikan.
III. FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS
3.1. Plankton
Suhu perairan di ekosistem mangrove Muara Angke berkisar antara 28.8-33.9 °C. Nilai suhu
tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan terendah terdapat pada stasiun 7. Perbedaan suhu
tersebut lebih disebabkan oleh beda waktu pengambilan sampel. Secara umum nilai
kisaran suhu tersebut adalah normal bagi perairan umum di daerah tropis. Salinitas
berkisar antara 5- . ‰ da pH erkisar a tara . -8.87. Salinitas sangat mempengaruhi
produktivitas primer selain cahaya dan suhu dan sering kali menjadi faktor pembatas bagi
biota hidup khususnya di ekosistem pesisir termasuk plankton Secara umum, nilai salinitas
dan pH diatas adalah normal bagi ekosistem estuari di daerah tropis.
Kandungan oksigen terlarut (DO) berkisar antara 0.45-7.50 mg/l. Diantara 7 stasiun,
ditemukan 3 stasiun yang nilai DO-nya kurang dari 2 mg/l (hipoksia) yaitu stasiun 3 (0,45
mg/l), stasiun 5 (0.5 mg/l) dan stasiun stasiun 6 (1.3 mg/l). Fenomena tersebut telah
dilaporkan oleh Hamzah dan Setiawan (2010) yang diduga karena ketiga stasiun tersebut
banyak sampah organik (mangrove) dan inorganik terutama plastik yang berasal dari Teluk
Jakarta sehingga untuk proses penguraian butuh DO yang banyak. Oksigen terlarut dari air
diserap oleh sedimen dan digunakan untuk kegiatan respirasi oleh bakteri (Hogarth, 1999)
3.2. Nekton
Faktor-faktor pembatas bagi nekton, yang merupakan organisme laut yang aktif secara perenang dan tidak tergantung pada arus laut, meliputi:
Ketersediaan Makanan: Ketersediaan makanan memainkan peran penting dalam mengatur populasi nekton. Ketersediaan plankton atau organisme lain yang menjadi makanan bagi nekton dapat mempengaruhi jumlah dan distribusi mereka.
Kualitas Air: Kualitas air yang buruk, seperti tingginya tingkat polutan atau suhu yang tidak cocok, dapat membatasi distribusi nekton karena mereka membutuhkan lingkungan yang bersih dan stabil untuk bertahan hidup.
Suhu: Suhu air memengaruhi metabolisme nekton. Suhu yang ekstrem dapat membatasi distribusi mereka, karena beberapa spesies nekton memiliki rentang suhu yang spesifik yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
3.3. Benthos
Faktor-faktor pembatas bagi benthos, yaitu organisme yang hidup di dasar perairan, termasuk:
Ketersediaan Substrat: Jenis substrat dasar, seperti pasir, lumpur, atau batu, memengaruhi jenis benthos yang dapat hidup di suatu wilayah. Organisme benthik membutuhkan substrat yang sesuai untuk menempel, berkembang biak, dan mencari makan.
Kedalaman: Kedalaman perairan mempengaruhi distribusi benthos. Beberapa spesies benthos lebih suka hidup di zona intertidal yang terkena pasang surut, sementara yang lain lebih suka kedalaman yang lebih dalam.
Ketersediaan Cahaya: Ketersediaan cahaya di dalam air dapat membatasi pertumbuhan organisme benthik yang bergantung pada fotosintesis, seperti lamun dan alga.
IV. PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Plankton merupakan komponen penting dari ekosistem perairan, terutama dalam ekosistem laut, dan memiliki peran yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan laut. Berikut adalah beberapa kesimpulan tentang plankton:
Peran sebagai Basis Ekosistem: Plankton merupakan basis makanan bagi berbagai organisme laut, termasuk ikan, mamalia laut, dan beberapa spesies burung laut. Mereka menjadi sumber energi dan nutrisi penting dalam rantai makanan laut.
Kontribusi pada Siklus Nutrien: Plankton berperan dalam siklus nutrien laut, terutama dalam memperoleh karbon dioksida melalui fotosintesis dan mengubahnya menjadi biomassa organik. Proses ini berkontribusi pada keseimbangan karbon di laut dan atmosfer.
Produksi Oksigen: Plankton fotosintetik, seperti fitoplankton, menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan dari proses fotosintesis mereka. Mereka berkontribusi secara signifikan pada produksi oksigen di atmosfer.
Berikut
adalah beberapa kesimpulan tentang nekton, organisme laut yang aktif
secara perenang dan tidak tergantung pada arus laut:
Peran Penting dalam Rantai Makanan: Nekton berperan sebagai predator utama di ekosistem laut dan menjadi bagian penting dalam rantai makanan. Mereka memangsa plankton, ikan kecil, dan organisme lainnya, serta menjadi mangsa bagi predator lainnya, seperti paus dan hiu.
Mobilitas yang Tinggi: Kehidupan nekton didukung oleh kemampuan berenang dan bergerak aktif mereka. Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan mencari makanan di berbagai wilayah perairan.
Distribusi yang Luas: Nekton dapat ditemukan di berbagai habitat laut, termasuk zona epipelagik (dekat permukaan laut), zona mesopelagik, dan zona batipelagik (kedalaman laut yang dalam). Kemampuan mereka untuk berenang secara aktif memungkinkan mereka menyebar luas di berbagai habitat laut.
Berikut adalah beberapa kesimpulan tentang benthos, organisme yang hidup di dasar perairan:
Peran Vital dalam Ekosistem: Benthos memainkan peran penting dalam ekosistem perairan sebagai pengurai detritus organik, pemakan dasar dalam rantai makanan, dan sebagai penyedia habitat bagi organisme lain.
Keanekaragaman Habitat: Benthos mendiami berbagai tipe habitat dasar perairan, termasuk pantai berbatu, pasir, lumpur, terumbu karang, dan dasar laut dalam. Keanekaragaman habitat ini menciptakan kondisi lingkungan yang berbeda bagi organisme benthik.
Interaksi dengan Faktor Lingkungan: Organisme benthik dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kedalaman, ketersediaan oksigen, dan kualitas substrat. Kondisi lingkungan yang berbeda dapat mengarah pada distribusi yang beragam dari benthos.
4.2. SARAN
Dari Informasi yang didapatkan saya memberi saran Penting untuk terus melakukan penelitian dan pemantauan yang menyeluruh terhadap populasi dan kondisi plankton, nekton, dan benthos di berbagai wilayah perairan. Informasi ini penting untuk memahami perubahan populasi, distribusi, dan kesehatan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Ardi. 2002. Pemanfataan Makrozoobenthos Sebagai Indikator Kualiatas Perairan Pesisir. [Tesis]. PS IPB. Bogor.
Nichols,
R.C dan R.G. Williams. 2009.
Encyclopedia of Marine Science.
Facts
on File Publisher. New York.
587 p
Nontji,
A. 2008. Plankton Laut. Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI),
Jakarta. 331 hlm
Hogarth, P. J. (1999). The Biology of Mangrove. Oxford University Press.United Kingdom.228 p\
Hamzah, F & A. Setiawan. (2010). Akumulasi Logam Berat Pb, Cu, dan Zn di HutanMangrove Muara Angke, Jakarta Utara. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis,2(2): 41-52
Komentar
Posting Komentar